Jumat, 25 Oktober 2019

,
Pagi bunda kece,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 😍😍😍

Jumpa lagi, kita berjumpa lagi, ya di sini ....

Catatan ini sebagai bahan evaluasi saya sebagai emak dari ananda Vanya dan Aida. Bahasan kali ini juga tentang kiat mengasah motorik kasar anak.






Kegiatan semacam ini memang yang disukai Aida dan juga Vanya sedari kecil. Disaat mama yang lain khawatir berlebihan ketika anak manjat-memanjat. Disaat yang sama saya menikmati proses mereka.

Awalnya saya dampingi penuh di belakangnya. Saya ajarkan step-step memanjat, dan proses turun dengan tanpa membantu. Hanya mengarahkan dan melindungi mereka di belakangnya.

Karena saya yakin saya tidak bisa terus mengawasi mereka sepanjang waktu. Jadi saya ajari ketimbang saya melarangnya dan kecolongan, anak nyungsep.

Dokumentasi kegiatan anak yang melibatkan motorik kasar.

1. Kerja sama kelompok


Mengangkat bersama sebuah pipa dengan bantuan talo tambang. Memasukkan bola kecil ke dalam pipa yang lebih besar ukurannya. Kekompakan menjadi kunci keberhasilan mereka.

2. Melintasi rumah pohon

Kakak pemandu memberi arahan saya agar mendampingi Aida, karena usianya yang masih 3 tahun kala itu dan bertubuh mungil. Sedang permainan ini sebenarnya untuk anak usia TK kisaran 5-6 tahun.

Karena keberanian dan semangat Aida, di sini mama hanya menemani, dan sesekali memberi tahu cara melewatinya. Di sini Aida belajar menggenggam tambang dengan erat, kaki dan tangan serta mata fokus.

Emak tidak menyangka kalau Aida akan mampu melewati seluruh rangkaian permainan. Bahkan ada anak TK yang merasa takut hingga berkeringat dingin dan ada juga yang menangis.

Alih-alih memberi semangat, Emak justru yang merasa kecut. Bocah sekecil ini apakah benar semua organnya siap menerima semua tantangan.


Berjalan diatas ketinggian lebih dari 3 meter. Melewati jembatan tambang, berupa jaring tambang. Emak justeru tidak berfokus pada Aida, melainkan dua Kakak cowok TK B di depan Aida yang mereka lambat. Memberi semangat dan memandu gerakan kaki dan tangan mereka.

Sebelumnya ada jembatan papan bergoyang, Aida tampak enjoy dan tertawa terus. Seolah berkata, "Makasih ya Ma, adik diajak gelantungan di sini."


Keberanian Aida di luar espektasi Emak, tak ada kata selain, good job Dear. Senyum semringah seperti ini sering terlihat. Menurut emak, ada kepuasan yang bertumpuk dalam rongga dadanya.


Aida berjibaku dengan anak yang dua tahun lebih tua darinya. Emak benar-benar speechless dibuatnya. MashaAllah tabarakallah Nak, emak tak perlu memompakan semangat lagi. Emak hanya perlu mengabadikan momen.


Sempat terpikir juga, kalau pas di tengah jalan ototnya sudah tidak kuat dan Aida menyerah. Sambil fotoin sambil mikir cara mengantisipasi jika itu terjadi.





Saya tipe emak yang mau anaknya berusaha, tidak mudah menawarkan bantuan. Kalau bisa itu sebatas basa-basi yang akan ditolak mentah-mentah oleh anak. Sebenarnya karena emak sudah memahami Aida dengan tingkah polahnya di rumah. Lemari adalah arena manjat dan juga rengen. #Emak curhat

Kondisi badan juga prima, sehat wal afiat. Manjat papan ini juga mama tidak bantuin. You know-lah itu mata Kakak pemandu enggak kedip ngeliatin Aida. Ada kemungkinan dalam hati berkata. Emaknya tega amat poto-poto doang.



Ini foto adalah pencitraan Mbak Vanyaku sayang, realitanya dia bisa berjalan dengan berdiri dan agak berlari di papan ini. Seperti pada gambar di bawah ini.



Nah di sini Emak baru berkesempatan memegangi Aida untuk mencoba game yang satu ini. Karena tanggannya tak sampai meraih tambang berikutnya. Kalau Mbak Vanya lulus cumlaude untuk kegiatan seperti ini.


Ini foto Aida mendarat dari Flying Fox. Uhui sekali, lutut emak terasa lemas. Melihat Aida mulai menaiki tangga kayu yang tinggi dan jarak satu tangga dengan yang lain berjauhan, lagi-lagi tanpa Emak.

Kali ini Kakak pemandu mengucapkan kekagumannya dan tertawa karena antara bocah dan anak tangga gedean anak tangga.

Sembari berkata, "Mana tadi yang bilang enggak mau nyobain? Tuh lihat Adik yang kecil saja enggak di antar Mamanya."

Sesampainya di atas Ia juga melewati beberapa Kakak TK, yang masih ciut nyali. Benar-benar tidak ada rasa takut. Apalagi jeritan histeris, yang ada kata, "Mau lagi Ma."



Evaluasi Mbak Vanya sebenarnya sudah sejak dulu, untuk tantangan seperti ini Vanya akan mudah melewati. Soalnya beberapa waktu sebelum acara field trip ini, Emak n Abi antar Mbak Vanya ikutan wall climbing.

Bahkan dua tiket sekaligus dipakai olehnya. Kalau boleh malah dia sepuluh kali wall climbing. Hahaha ...


Yang pertama Emak baru pencet kamera, kamera masih belum on videonya. Mbak Vanya sudah sampai atas. Hihihi




Ini pertama kalinya Mbak Vanya mencoba wall climbing, sayangnya video terpotong kalau di IG. Dan Emak lupa save di Youtube.  Ini usia Mbak Vanya masih 4 tahun.




Ini namanya lompat simpai, kegiatan ini juga termasuk mengasah motorik kasar anak. Selain lempar-tangkap bola, lari, main sepeda.



Selingan, ini Adik Aida usia 21 bulan, MashaAllah Tabarakallah, enggak mau dibilangin waktu emak bilang tunggu Adik besar. Namun dari saat itu sampai saat ini kalau menggunakan pisau belum pernah tersayat. 




Aida ini termasuk anak yang tidak bisa melihat pagar nganggur, dipanjatlah pagar. Ups!




Ini aktivitas mereka, siap-siap budget lemari baru, lemari emak sudah somplak duluan pintunya buat gelantungan. Dan tempat hanger dipakai untuk ragen. Kalau tangan tidak sampai ada bantal dan boneka untuk manjat.

Kehidupan emak penuh liku. Pujian itu dibarengi dengan berulang kali menata isi lemari atau berulang kali ditegur ibu lain karena anakku berpotensi membuat anak lain mengikuti polahnya.

Sekian dulu ya Mak, evaluasi kemampuan anak-anak. Masih ada juga sih video belajar mengendarai sepeda dan juga memakai sepatu roda. Ada kocak-kocaknya juga.

Tapi rasanya sudah panjang sekali postinganku. Sampai ketemu di postingan berikutnya ya Mak.

Salam literasi!
Happy momong anak!

Follow Us @sukmanyamega