Minggu, 21 Juli 2019

,
Bismillah

Siapkan  kacu (sapu tangan), mohon bersabar, mohon bersabar ... ini ujian.

Emak mau bercerita tentang beberapa kegagalan dalam berkomunikasi dengan suami. Sehingga segala hal yang saya minta selalu tertolak.

"Jadi tahu betul nih rasanya ditolak, maafkan yah bray yang sempat ditolak cintanya dahulu," seloroh emak sok laku.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari kasus saya?

"Bahwa, setiap luka hati itu tergantung kita mau disembuhin apa mau jadi bahan ungkit-ungkit."
Memaafkan itu mudah yang sulit adalah melupakan hal yang menyakitkan diubah menjadi pelajaran berharga yang hanya didapat dari pembuat luka.

Andai stok maaf kita ini tak berbatas, pasti pengadilan agama sepi cuy. Coba bayangkan saja, segala sesuatu bisa dihadapi tanpa harus saling meninggalkan.

Bagaimana caranya?

Berhenti mengikuti kalimat bijak, "Paku apabila sudah tertancap pada kayu kemudian dicabut, akan meninggalkan bekas." Harus dihindari kalimat seperti itu, karena itu memaklumi hati kita yang rapuh, dan membiarkan ia tetap rapuh, right?

Diganti dengan kalimat, "Hanya seorang yang berjiwa ksatria yang akan memaafkan kesalahan orang lain." Dengan begini kita diajari untuk berjiwa besar tidak letoy.

Bukankan setiap kesalahan seseorang, penghianatan seseorang itu terjadi selalu atas izin-Nya? Seberapa pun tak sukanya kita, semua yang terjadi sudah dalam skenario, lulus perizinan dan pengawasan-Nya. Bahkan daun berguguran dari pohon pun atas kehendak-Nya. Tiada yang luput dari sensus-Nya.

Coba deh dibalik, jika Allah berkehendak kita bersalah, lalu menyesal dan minta maaf. Tapi sudah tak ada maaf lagi karena, pasangan menganut paham, paku yang dicabut meninggalkan bekas. Kerja keras kita untuk dimaafkan tak digubris.

Btw, balik lagi ya ke takdir, kalau memang takdirnya berpisah sesimple apapun urusan bisa dipermak jadi besar, sedikit demi sedikit. Begitupun sebaliknya.

Hanya saja hidup dalam kondisi memaafkan jauh lebih nikmat, semacam secangkir kopi dan sepotong bolu, ketika hujan turun.

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Masuk ke materi 'Seni Berbicara dengan Suami", yuk kita mulai.

Ini masih tantangan buat saya, karena model suami saya seperti Om Rocky Gerung gitu, ga bisa dikalahkan kalau berdebat. Makanya musti hindari perdebatan.

Tips gagal yang harus dihindari :

1. Mengajukan permintaan tanpa dilengkapi proposal.

Ini yang sudah saya buktikan genk, jadi saya ini kalau punya keinginan maunya terlaksana. (Itu mah semua yang bernyawa maunya begitu ... cuman ngaku apa nggak aja).

Karena suami bukan om Jin ye kan, tapi jauh lebih hebat lagi karena tidak hanya tiga permintaan yang dikabulkan, bisa lebih banyak lagi kalau sesuai catatan.

Jadi kalau sama suami itu, harus berpikir dengan logika, jangan main perasaan. Apa yang kita minta harus terbukti itu penting dan berguna bagi kelangsungan hidup. Hindari meminta hal yang menjadi larangan suami, yang ada perang dunia berulang.

2. Mengajukan permintaan saat pengeluaran bulanan membengkak.

Dikira uang tinggal metik, kalau anggaran lagi devisit ya ditahan dulu permintaannya. Atau minta hal-hal yang tidak mengganggu pengeluaran bulan itu, misalnya ganti minta dipijit.

Artinya paham betul dengan situasi suami, mengajukan permintaan di kala sempit itu memperkeruh suasana. Meskipun apa yang kita minta tidak untuk dikabulkan saat itu juga, namun akan membuat persentase diterima tipis. Jika dilakukan pada waktu yang tidak tepat.

3. Mengajukan permintaan saat suami sedang lelah.

Ini yang tadinya bisa di-acc tanpa nego akhirnya, berbuntut ricuh. Ini fatal, kalau tidak percaya boleh dicoba mak. Hihihi

Sebaiknya siapkan hidangan pembuka yang lezat dulu. Masakkan makanan kesukaan, sambil dipijit lebih baik ini mak. Kondisikan suami dalam keadaan kenyang dan bahagia.

4. Belum-belum sudah marah duluan.

Namanya juga pingin sesuatu, kalau dilarang pasti kecewa. Tahan dulu marahnya, marah-marah bukan semakin rock tapi semakin jauh dari harapan. Kalau bisa dimanis-manisin. Pokoknya bermodal rayuan maut bukan tampang preman.

Kalah sama pelakor mak, kalau modelnya ngambek terus marah-marah tidak karuan. Di luar sana, pelakor memiliki rentetan tawaran manis supaya bisa disahkan dan melengserkan status. Ngeri kan mak?

Keep calm yo mak!

5. Memaksa harus dihargai mahal kinerja yang sudah dilakukan

Berharga tidaknya seseorang sesuai dengan caranya menghargai. Memaksa dihargai itu bikin ilfil, jadi kesannya apa-apa yang sudah dikerjakan harus diimbali dengan harga.

Tiada lagi ikhlas, semua hanya demi penilaian. Males banget kan itu, kalau harus ketemu yang begini. Penghargaan itu datangnya bukan dari paksaan tapi keikhlasan.

Ingat mak, pelakor di luaran sana, mereka menawarkan kenyamanan tanpa batas. Menawarkan donat bertabur gula, meises, dan juga coklat leleh aneka rasa.

Jadi jangan sampai ketika permintaan ditolak lalu mengungkit jerih payah yang sudah-sudah. Ingat itu jerih payah dulu sudah pernah dipake untuk klaim reward belum? Hihihi

Sekedar mengingatkan saja, jangan-jangan kinerja yang itu-itu saja digunakan untuk klaim reward berkali-kali, malu sama meong atuuuuh!

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

Seni berbicara pada suami ini makin lama seharusnya semakin membaik. Karena prakteknya setiap hari, harusnya semakin mahir dalam berkomunikasi.

Namun pada kenyataannya banyak diantara kita yang perlu bantuan psikolog untuk sekedar bahagia bersama pasangan. Memang menentramkan hati untuk menghasilkan kalimat positif itu tidak selalu mudah.

Hati perlu disetting ulang pengaturannya, agar tidak mudah kecewa. Salah satunya dengan bersikap legowo. Tidak memasang target terlalu tinggi terhadap suami.

Target kita adalah menyesuaikan dengan ketetapan-Nya. Karena sebaik-baiknya usaha dan do'a adalah jika Allah menghendaki. Terkadang kita tidak bisa melihat sejauh mana suami dalam berupaya.

Yang terlihat oleh kita adalah hasil yang diperoleh. Sama seperti halnya kita, sudah berusaha sungguh-sungguh dalam mendidik anak dan mengatur keluarga namun hasil yang diperoleh tidak selalu sama dengan harapan dan target kita.

Yang sering kali kita lupa, mencatat dalam hati berapa kali suami membahagiakan kita dalam sepanjang hidupnya. Tapi mengingat-ingat satu atau dua kesalahannya dan mengungkitnya sepanjang masa.

Berbicara kepada suami hendaknya dengan sopan, intonasi yang rendah, nada suara yang manis terdengar dan bersikap manja. Dadanya yang bidang itu adalah tempat kita menangis ketika merasa sedih dan kecewa ya kan gaes.

Sebaik-baik orang adalah yang mampu mengendalikan amarahnya. 
Jadilah profesional!
Karena menjadi istri adalah pekerjaan terlama yang kita miliki. Ulangi hal yang baik dan tinggalkan yang buruk.

Semua karena cinta ...πŸŽΌπŸŽΆπŸŽ€πŸŽ™πŸŽ΅πŸŽΉπŸŽΈπŸŽ·
Monggo dilanjut nyanyinya.

Senin, 08 Juli 2019

,
Bismillahirrahmanirrahim 🌼🌼🌼

Beberapa tahun lalu, kerjaan saya adalah pergi ke peyewaan buku bersama teman-teman. Menyewa buku kesukaan masing-masing. Nantinya setelah selesai baca, tukar-tukaran. Sebelum waktunya mengembalikan buku.

Jadi kangen sama teman-teman. Sekarang mau nulis apa ya?
Puisi ajalah ya  ....

Lelah Meraih Renjana
Karya : Lantana Ungu

Kutatap kerlap-kerlip langit
Berharap ada bahagia menyelusup relung hati
Tubuhku terasa remuk redam
Penat menjajah tubuhku

Kerlip bintang menghiasi langit
Namun bahagia tak jua datang padaku
Gontai langkahku
Pucat pasi wajahku

Bukan kerlip bintang yang keliru
Hatiku bergeming tawar terasa
Jiwaku yang terlunta
Hingga raga tiada berdaya

Lihat aku wahai kekasih
Palingkan wajahmu padaku
Semaikan kembali putik-putik bahagia
Jiwaku terkungkung nestapa

Lama sudah engkau membisu
Meruntuhkan segala harapan dan cinta
Raih kepingan hatiku wahai kekasih
Rekatkan hingga berwujud

Lelah ...
Kalah ...

Lihat aku wahai kekasih
Biarkan binar matamu cerahkanku
Gelisah tak lagi terbendung
Nelangsa tak tertahan

Remuk redam hatiku
Sadari tiada lagi hati untuku pulang
Ia tak hilang namun tertutup rapat
Ia ada namun tiada bagiku

Lelahku berujung luka
Tatkala tiada lagi renjana dalam kalbumu
Tiada lagi suka cita
Sirna asa tinggalkan luka

Bekasi, 8 Juli 2019 (23:22 WIB)


Oke gaes, see you, dengan puisi patah hati lainnya. Biarkan yang muda yang bercinta. Ahay, yang udah tua tunggu puber kedua. 😁😁😁


Minggu, 07 Juli 2019

,
Bismillahirrahmanirrahim πŸ’œπŸ’œπŸ’œ

Mendongeng atau berkisah adalah cara ampuh untuk menularkan gagasan, ide, idealisme, nilai dan norma, kepada anak kecil.

Mendongeng atau berkisah ini mudah, sederhana dan menyenangkan.
Sebelum masuk pada kiat-kiat sukses mendongeng dengan hati, kita tanamkan anggapan bahwa mendongeng itu mudah, sederhana dan menyenangkan. Dengan mendongeng kita bisa dengan rileks, menanamkan nilai kepada anak tanpa harus berdebat dan marah-marah. (Yekan mak?)

Setelah lulus dengan penanaman kata mudah, sederhana dan menyenangkan itu berhasil, kemudian mulailah bercerita, dengan hati yang senang dan bahagia.

Sekarang saatnya kita cari tahu apa saja sih Mak manfaat mendongeng atau berkisah itu? Boleh dong sebut satu persatu, kalau kurang tar nambah ya. (Udah kaya makan bakso aja!)
  • Menanamkan nilai-nilai kehidupan
  • Membangun kemampuan literasi
  • Menyampaikan sejarah
  • Mengembangkan cara berfikir, imajinasi, emosi dan intimasi
  • Membahagiakan atau menghibur

Yuk mari, kita ulas sedikit tentang manfaat berkisah di atas. Sebagai contoh kita mengisahkan 'Uwais Al-Qarni', penghuni langit, orang miskin di dunia namun namanya terkenal di antara penghuni langit.

Uwais adalah anak yang sangat berbakti kepada oreng tuanya, do'anya selalu Allah kabulkan. Ada banyak hikmah yang terkandung di sana. Kisah seperti ini mampu membentuk karakter anak. Mengenalkan sebuah karekter dengan contoh. Sehingga anak paham akan maksud kata 'berbakti'.

Selanjutnya anak akan belajar kata baru, sehingga perbendaharaan katanya melimpah. Ananda juga bisa belajar percakapan dari kisah yang kita dongengkan. Seperti kata 'penghuni langit'.

Anak saya bertanya apa itu penghuni langit, setelah dijawab muncul lagi pertanyaan yang lain, karena keingintahuan anak yang tinggi. Dalam kisah yang kita ceritakan mengandung sejarah, menceritakan biografi seseorang yang memang pernah ada pada zamannya.

Dari kisah di atas, imajinasi anak akan berkembang, daya pikirnya betambah. Ketika kisah sedih dia akan menangis, ketika kisahnya lucu dia akan tertawa. Akhirnya menghibur dan menjadi candu.

Akan lebih menarik jika gesture dan mimik kita disesuaikan dengan kisah. Lebih hidup kisahnya

Gesture dan mimik ini adalah senjata andalan. Jadi kalau ceritanya sedih mimik kita juga harus sedih iyakan Mak? Biar anak belajar berekspresi juga.

Siapa hayo yang sudah merasakan dampaknya berkisah?

Kalau saya nih Mak, anak saya jadi cerewet. Jadi kata-kata dalam buku cerita atau kisah-kisah yang saya dongengkan itu membludak dalam percakapannya. Kenal kata-kata baku, dari buku cerita. Jadi anak cerewet bisa jadi karena emaknya nggak bosan bacain dongeng.

Cerita yang kita sajikan juga tidak harus dari buku Mak, kalau stok buku yang dibaca sudah habis. Kita bisa berkisah tentang masa kecil kita. Cerita tentang kakek dan juga neneknya.

Hal ini penting loh Mak, untuk menumbuhkan kedekatan antara Emak dan Ananda. Ananda juga jadi leluasa bercerita tentang pengalamannya bermain atau kegiatan belajar di luar rumah.

Bukankah ini poin penting untuk mengawasi gerak-gerik Ananda dengan kisah mereka? 

Biar tetap terkontrol, dan Emak tahu apa yang sedang dia pelajari di luar rumah. Bagaimana pergaulan mereka jika sudah beranjak remaja? Kedekatan seperti ini akan besar manfaatnya.

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼

Lalu apalagi yang membuat berkisah itu mengesankan?

Ada beberapa poin nih Mak, dan ini Emak pasti setuju, cekidot!

  • Pilih cerita yang baik (isi cerita, disukai, dikuasai, sesuai dengan usia anak)
  • Waktu cerita saat anak istirahat
  • Menceritakan ulang, jika itu dari buku boleh dicatat poin-poin pentingnya untuk diingat. Jangan menghafalkan.
  • Boleh dengan peraga boleh tidak

Dulu pernah, anak saya nangis kejer pas jam-jam tidur malam, dibujuk untuk diam tidak mau, dia maunya pergi membeli jajanan. Saking bingungnya saya mulailah bercerita di antara jeritannya. Suara agak besar menyesuaikan, lalu semakin pelan ketika jeritannya memudar.

Emak bercerita tentang seorang gadis yang tinggal di hutan bersama neneknya. Ia menjerit-jerit, menangis tanpa diketahui sebabnya. Kemudaian saya mencontohkan jeritannya ... Dari situ ia mulai diam mendengarkan kisah saya, yang saya dapat secara spontan.

Ending kisah itu, anak perempuan tadi diam karena tiba-tiba terdengar suara harimau mengaum. Dan dengan berakhirnya kisah tadi Aida berhasil tidur dalam gendongan saya. Fiuh!

Seperti saya, ketika Mbah Kakung dari Ibu masih gesang, senang kalau beliau bercerita tentang zaman peperangan. Bagaimana mereka membuat tempat persembunyian di bawah dipan/ranjang atau bersembunyi di alas/hutan.

Menceritakan tentang bambu runcing, serta takbir dan seruan terhadap Allah, bergemuruh di setiap dada mereka. Mulutnya yang fasih mengisahkan seolah di depan matanya masih tergambar jelas peperangan itu.

Begitu pula kisah Simbah Soinangun (Putri) ibunya Bapak. Mengisahkan tentang perjuangannya berdagang, ia menggendong dagangan, menaiki pegunungan menoreh, di atas sana beliau berjualan pakaian. 

Ketika di jalan bertemu begal, ia justru berpura-pura menyangka bahwa orang itu adalah buruh panggul. Simbahku ini terkenal 'tegas' dan nada suaranya tinggi. Bahkan begal aja jiper, disuruhnya bantuin angkat dagangan.

Jika saya merasa sangat suka terhadap dongeng, begitu juga dengan anak-anak, pikir saya.

🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼

Tips, untuk awalan berkisah atau membacakan buku, hal ini bisa dicoba saat anak menjelang istirahat (tidur siang atau malam). Saat itu anak sudah kelelahan dengan aktivitasnya. Jadi anak akan fokus untuk mendengarkan kisah yang akan kita baca.

Mendongeng bisa divariasikan, bisa dengan menggunakan peraga, atau hanya dengan mimik dan gestur. Bisa juga dengan membedakan suara tokoh.

Yuk mari Mak-emak, kita mendongeng dari hati.

Jumat, 05 Juli 2019

,
Bismillahirrahmanirrahim πŸ’™πŸ’™πŸ’™


Menuliskan kembali ilmu sebagai murojaah ilmu yang diperoleh ketika kajian online bersama Ummi Kurnia Sari Mulia.

Ummi Mulia berkata bahwa pendidikan jelang baligh ini sangat kurang gaungnya. Meskipun beliau sudah merintisnya sejak 2005 bersama lembaga LPPA di Medan miliknya. Minim mitra bicara serta beberapa ustaz yang mumpuni kurang merespon ketika beliau kunjungi.

Baru di tahun 2016, mulai berkembang dan pertemuan dengan Bunda Elly Risman membuat usahanya semakin membuahkan hasil. Memang benar adanya, emak-emak seperti saya cenderung berfokus pada pendidikan usia dini tanpa mempersiapkan diri untuk menyempurnakan pendidikan jelang baligh.

Padahal alangkah baiknya jika sejak awal menikah kita sudah tahu pasti, ketika memiliki buah hati maka langkah-langkah mendidiknya sudah diketahui dengan baik. Jadi emak macam saya ini merasa kejar tayang antara belajar dan mendidik anak.

Sungguh pilu terasa di relung hati. Tergopoh-gopoh emak waktu mendapatkan kajian ini. Bagaimana tidak? Pendidikan jelang baligh ini seharusnya dimulakan dari usia anak nol tahun. Sedangkan usia anak emak enam tahun dan juga tiga tahun. Banyak yang harus kejar tayang, bukan begitu? Sebagai awalan kita ulas dulu pengertian dari baligh tersebut.

"Baligh adalah sebuah situasi dimana manusia secara fisik dan kemampuan berpikir, sudah mampu menanggung beban syar'i." 
Menurut Imam Syafi'i paling lambat usia 15 tahun dalam hitungan tahun hijriah. 
Kondisi baligh ditandai dengan proses menstruasi pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki. Bukan pada tanda baligh atau tata cara fiqih yang wajib dilakukan saat momen ini tiba.

Persoalannya justru pada bagaimana kita sebagai orang tua memberi bekal kepada ananda setelah ia masuk masa baligh. Ia sudah mulai menanggung beban syar'i seperti orang dewasa hingga kelak ia meninggal. Kecuali jika ia hilang akal/gila.

Orang tua harus memiliki visi misi yang jelas, seperti sebagai contoh 'masuk surga sekeluarga'. Setelah itu memikirkan bekal apa yang akan kita berikan untuk mengarungi hidupnya.

Dalam benak muncul berbagai pertanyaan seperti :

  1. Bagaimana cara mendidiknya? Yang dibutuhkan anak kita adalah akar aqidah yang kokoh, yang tumbuh subur dan menjadi ihsan. Terwujud dalam ibadah yang bertanggung jawab dan akhlaqul karimah.
  2. Dari usia berapa? Dari nol tahun.
  3. Siapa murrabinya? Ayah dan Ibunya
  4. Apakah bisa disubkontrakkan kepada orang lain atau lembaga tertentu? Tidak bisa
  5. Kenapa tidak bisa? Bukankah lembaga pendidikan memiliki visi menjadikan generasi akhlakul karimah dan sejenisnya? Tetap tidak bisa.

Alasanya ada beberapa hal, mengapa pendidikan jelang baligh tidak bisa disubkontrakkan, yaitu :

  1. Lembaga pendidikan itu bersifat masal tidak spesifik, jadi hanya bisa digunakan untuk support.
  2. Lembaga itu hanya memberikan knowlage karena keterbatasan waktu, tempat dan sumber daya.
  3. Intensitas harian hanya bisa dilakukan orang tua karena waktu anak lebih banyak bersama orang tua. Dan poin-poin ibadah dari bangun tidur hingga beranjak tidur, lebih banyak dalam pengawasan orang tua.
  4. Tidak mungkin pelayanannya spesifik per anak sesuai pertumbuhan fisik dan psikogis anak.
  5. Dalam prakteknya sering kali sekedar drilling (latihan rutinitas shalat). Tanpa menjelaskan mengapa harus shalat, mengapa lima waktu, mengapa banyak. Yang akhirnya kosong makna, tidak mampu menjawab sempurna kebutuhan 5W+1H. Orang tua lupa menjelaskan semua itu, atau mungkin tidak tahu jika itu adalah hal yang krusial.
  6. Terlalu banyak materi tidak penting yang berada dalam materi hingga yang penting tercecer.
  7. Orientasi edukasi masal sudah berubah dari ilmu kepada performa bisa ditampilkan. Padahal pada masa 0-10 tahun adalah masa terbaik untuk menanamkan nilai, bukan galang prestasi. Ini emak 'mak cleng', kena sentil. Suka bukan main kalau anak dapat prestasi, padahal sedang dalam rangka menanamkan nilai. Prestasinya dipending hingga kelak ketika ia baligh.
  8. Membangun kesadaran beraqidah bukan sekedar membangun habit melainkan karakter.
  9. Role model yang utuh adalah orang tua itu sendiri.
  10. Tarbiyah adalah menularkan sistem nilai, hal inilah yang menyebabkan penyampaian nilai keluarga harus dilakukan oleh orang tua.
Pendidikan jelang baligh atau pondasi penanaman aqidah dan akhlak pada anak tidak bisa disubkontrakkan. Emak mulai paham bahwa dalam kegiatan sehari-hari di saat kita mengajari anak banyak hal tentang dunia ini. Selipkan tadzabbur qur'an, agar iman anak kuat.

Hal ini juga harus dibicarakan secara serius oleh ayah dan ibu. Karena keduanya harus mengambil peranan yang sesuai. Anak laki-laki dibimbing oleh ayahnya, karena yang sesama gender mengetahui dengan pasti sensasinya seperti apa. Begitu juga dengan anak perempuan, harus ibu yang membimbing.

Sambil ngopi di teras ganti topik bahasan receh ayah bunda dengan peta pendidikan jelang baligh yang harus dipahami sejak awal. Supaya bisa bersama-sama menjalani peran.

Sebagai ibu, meskipun sudah melahirkan, bukan berarti kita langsung jago dalam mengasuh dan mendidik anak. Banyak di antara kita yang minim bekal ilmu pernikahan dari kedua orang tua kita. Jadi harus rajin mengupgrade ilmu. Karena tantangan zaman dan usia anak melaju, harus dibarengi dengan ilmu yang sesuai.

Usia anak 3-5 tahun, anak sedang dalam tahap egosentris sekaligus peneguhan gender. 
Basicly, untuk usia ini poin 7-10 adalah jawabanya. Role model atau uswatun hasanah adalah yang terbaik. Perilaku ayah sebagai seorang lelaki dan perilaku ibu sebagai perempuan akan sangat membekas.

Ketaatan ayah bunda dalam beribadah, ungkapan-ungkapan kecintaan ayah bunda terhadap Illahi Robbi, akan terekam dengan jelas oleh anak. Bagaimana kasih sayang ayah dan bunda dalam mendidik dan mengasuh akan menjadi perilaku mereka.

Perbanyak bermain dengan unsur alam, minimkan mainan build up. Dengan begitu akan muncul curiocity pada anak, sehingga muncul pertanyaan cemerlang, yang mengantarkan anak mendekat dengan penciptanya, seperti kedekatan dengan ayah dan ibu.

"Lakukan dengan cinta tanpa target, apalagi cepat-cepat, nikmati saja prosesnya."
"Karena toh yang Allah NILAI prosesnya bukan semata-mata hasilnya. Hasil hanyalah sebuah ekses dari usaha."
Sedangkan ketika anak sudah mulai berusia 7-10 tahun mulai perlu diajarkan rutinitas ibadah, diperintah untuk belajar menjalankan kwajiban yang kelak ketika baligh ia harus kerjakan. Seperti shalat fardu dan puasa Ramadan.

Jika orang tua terlambat mengetahui pendidikan jelang baligh ini maka langkah yang harus diambil adalah dengan memohon ampunan kepada Allah atas kelalaian kita. Minta maaf kepada ananda bahwa ada haknya yang tercecer. Yaitu kewajiban kita yang tidak kita kerjakan dengan tepat.

Sering-seringlah memeluk dan membimbing ananda, mencium ubun-ubun ananda, berdo'a agar dimudahkan dalam membimbing ananda. Dan harus dilakukan secara kompak oleh ibu dan ayah.

Akan lebih berliku jalan yang dilalui, kemungkinan penolakan dari anak lebih besar. Untuk itu perlembut, jika anak menolak. Beri penjelasan singkat tidak lebih dari 15 kata. Lebih baik dijelaskan di saat situasi sudah membaik, akan lebih baik dampaknya.

Landasan berfikir itu penting ya mak. Tips dan trik itu mengikuti, kita akan selalu menemukan cara yang pas dengan situasi yang ada.

Semangat, jangan lupa bahagia.
Perbanyak syukur, kurangi mengomel ....
(Ngomong kaya gini enaknya sambil ngaca, berasaaa banget) 😁😁😁

Sampai ketemu dipostingan berikutnya. Bye ...!

Kamis, 04 Juli 2019

,
Bismillahirrahmanirrahim 😍😍😍

Kali ini mau mengupas tuntas tentang karakter sopan santun. Yang mana bangsa kita dahulu terkenal dengan penduduk yang ramah dan sopan. Tetapi ternyata bangsa lain seperti Jepang, Hongkong dan Korea juga santun-santun ya orangnya.

Zaman saya kecil, orang-orang sudah jarang sekali belajar bahasa Jawa Krama Inggil. Padahal itu adalah bentuk sopan santun dalam etnis Jawa. Apalagi sekarang, demi menjaga kesopanan, anak-anak cenderung diajarkan bahasa Indonesia ketimbang bahasa Jawa Krama Inggil.

Tidak jadi soal, karena sopan santun tidak terbatas hanya dalam percakapan. Mencakup pada tingkah laku dalam keseharian. Dan perlu digaris bawahi  tingkat kercedasan seseorang tidak menjamin terbentuknya karakter ini dengan baik.

Sopan santun ini termasuk akhlak mulia yang harus kita tanamkan pada anak-anak. Ada beberapa peribahasa jawa mengenai sopan santun.
"Becik ketitik ala ketara, artinya akan muncul kepermukaan yang baik dan yang buruk juga akan kelihatan."
"Ngunduh wohing pakarti, artinya menuai apa yang ditanam (kebaikan maupun keburukan."
"Mikul duwur mendem jero", artinya anak yang bisa menjunjung nama baik orang tua."
Akhlak baik (sopan santun) akan melahirkan sesuatu yang baik. Sebenarnya dengan berbahasa Jawa Krama Inggil, akan membuat orang lain menyegani. Selain ucapan yang baik, juga body language atau bahasa tubuh seseorang akan memperbaiki citranya.

Mengenalkan dan mendidik sopan santun pada anak tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Perlu bertahap, karena banyak sekali yang harus diajarkan.

Bagaimana tips agar perkenalan serta pendidikan karakter sopan santun ini bisa berhasil dengan baik? Mari kita kupas tuntas dari satu per satu.

1. Sejak Usia Dini

Dimulai dari anak berusia 1-3 tahun. Secara bertahap agar menjadi kebiasaan, jika sudah menjadi kebiasaan maka akan sulit luntur. Tidak perlu menunggu anak sudah lebih besar karena akan sulit merubah kebiasaan yang sudah ada, ketimbang menanamkan kebiasakan baik sejak awal. Contoh kecilnya adalah : memberi salam, meminta izin, serta berdo'a sebelum melakukan aktivitas.

2. Menjadi Tauladan atau Role Model

Karena fitrah anak adalah peniru ulung, maka akan lebih mudah menerapkannya dengan kita melakukan hal tersebut. Anak mudah terpengaruh dengan apa yang kita kerjakan bukan apa yang kita perintahkan.

Akan sulit bagi anak, ketika kita meminta dia memberi salam atau meminta izin apabila kita sendiri tidak melakukannya. Namun jika melihat langsung perilaku baik akan mudah direspon oleh sensor peniru. Maka dari itu anak usia 1-5 tahun sebaiknya bermain bersama orang tua, agar tertanam adab baik sebelum di-launching untuk bersosialisasi.

3. Kenalkan Dengan Agama

Agama adalah pilar bagi manusia untuk mengenal baik dan buruk dengan lebih baik. Dengan mengenalkan agama, anak akan mengenal surga dan neraka. Anak termotifasi dengan kisah kebaikan kelak dibalas dengan surga. Menggambarkan keindahan surga yang akan diraih ananda jika selalu bersikap baik.

Pengenalan agama ini bisa dilakukan sedini mungkin, namun orang tua harus paham sejauh mana anak memahami konsep. Yang ringan-ringan terlebih dahulu. Dalam Islam bisa dengan hadits keutamaan memberi salam, keutamaan memberi hadiah, keutamaan tersenyum serta keutamaan berbuat baik kepada orang tua.

4. Dimulai Dari Hal Yang Sederhana

Ajari anak empat kata dasar dalam sopan santun, yaitu permisi, tolong, maaf dan terima kasih. Keempat kalimat ini merupakan kalimat yang sangat sering terucap dalam keseharian kita.

Ajarkan juga penggunaan kata tersebut. Berikan contohnya seperti :

  • Izin : "Permisi, Adik mau lewat ya Ma."
  • Meminta : "Tolong, buatkan Adik nasi goreng."
  • Bersalah : "Maaf ya Ma, minumnya tumpah."
  • Menerima kebaikan : "Terima kasih ya Ma" saat Mama selesai membuatkan nasi goreng, misalnya.
5. Bermain Peran atau Role Play

Fitrah anak adalah bermain, jadi pendidikan apa saja, untuk anak usia dini sebaiknya dilakukan dengan bermain. Hal ini akan membuat anak enjoy melakukannya. Bahkan akan dilakukan berulang-ulang tanpa paksaan.

Bisa sambil mengenalkan profesi jika dilakukan dengan bermain peran. Suasana riang gembira akan membuat penanaman karakter lebih optimal.

6. Harus Konsisten

Kemampuan otak anak dalam mengingat masih belum sempurna. Jadi anak cenderung lupa, namun sebagai orang tua sudah seharusnya kita selalu mengingatkan. Karena karakter yang kita tanamkan diharapkan agar menjadi kebiasaan.

Jangan terlalu longgar, dan mudah memaklumi anak, harus tetap diingatkan. Karena jika iya, maka anak akan menilai kita tidak konsisten dan membuat mereka bingung.

7. Dengan Membacakan Buku serta Berkisah

Seperti halnya bermain peran mendengarkan cerita adalah hal yang sangat menyenangkan untuk anak-anak. Karena disaat itu imaginasi mereka mengembara, mengikuti kisah yang kita ceritakan.

Ketika membacakan buku atau berkisah, jangan lupa mengajak anak memetik hikmah dari cerita yang kita sampaikan. Seperti peribahasa jawa diatas, bahwa kebaikan akan menuai kebaikan, sedang kejahatan akan membuat celaka di kemudian hari.

8. Memberikan Pujian

Kata-kata manis berupa pujian merupakan sebuah apresiasi yang membahagiakan bagi anak. Jangan pelit dalam memberikan pujian, meskipun progres anak baru sedikit. Akan tetapi tidak secara berlebihan.

9. Serius Dalam Menerapkan

Serius disini adalah, tidak menganggap lucu lantas menertawakan apabila anak melakukan kesalahan. Jangan jadikan kesalahan anak sebagai bahan lelucon. Justru akan membuat anak sulit memahami apa arti sopan santun. Sebaiknya ingatkan dengan lembut jika anak berbuat kesalahan.

10. Penuh Perhatian

Anak yang kurang perhatian akan cenderung melakukan perbuatan yang dinilai kurang sopan, hanya untuk menarik perhatian orang tuanya. Jadi berikan perhatian yang cukup. Jika anak sedang butuh perhatian, maka tinggalkan kesibukan emak sejenak, lalu penuhi kebutuhan ananda.

11. Butuh Proses

Sesuai dengan kapasitas otak anak yang mempengaruhi kinerja anak. Maka rentan waktu yang dibutuhkan tidak sebentar. Sesuai dengan daya penerimaan anak. Dan masing-masing anak berbeda jangka waktunya.

Selain itu sebaiknya dilakukan bertahap agar lebih optimal pemahaman anak. Tidak serta merta diajarkan semua. Jangan bosan dalam mengingatkan. Terus berproses hingga terbentuk dengan baik.

12. Sertakan Dalam Do'a

Agar hati anak mudah diajarkan dalam kebaikan maka sangat dibutuhkan do'a orang tua yang membersamai. Do'akan agar teguh dalam perilaku sopan santun. Karena ketika sudah mulai beranjak remaja kita tidak bisa mengawasinya selama 24 jam.

Memohon agar selalu dalam perlindungan-Nya, dan mendapatkan lingkungan pergaulan yang baik.

Demikian beberapa poin penting dalam menularkan adab atau sopan santun. Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat. Sampai ketemu lagi dalam sharing berikutnya.

Semangat beraktifitas emak-emak keceh ....

Senin, 01 Juli 2019

,


Bismillahirrahmanirrahim 😘😘

Ini putaran kedua "Sehari Satu Tulisan" dalam Kelas Literasi Ibu Profesional. Ternyata tugas untuk putaran kedua ini adalah menulis untuk orang lain (menulis Blogpost atau teknik blogging). Baru tahu setelah bulan Juni (awal catur wulan kedua) berlalu.


Untuk itu emak mau membagikan materi sharing session saya siang tadi di grup whatsapp, Komunitas Hijrah Islamic Parenting. Di komunitas ini, tahun kemarin saya jadi penanggung jawab "Writing Club", tapi awal tahun ini vacum dan baru mau aktif kembali menunggu PJ tambahan.

Karenanya saya sekarang aktif di Divisi Tarbiyah Orangtua, jadi sekretaris divisi sekaligus penanggung jawab program Tarbiyatul Aulad seri Sirah.

Minggu ini program mulai aktif kembali, entah mengapa Kadiv saya, meminta saya untuk isi kulwap dengan tema di atas. Setelah ditelusuri karena kedua anak saya ternyata dinilai tingkat percaya dirinya tinggi, jadi cocok berbagi kisah tentang ini.

Di bawah ini materi yang saya sampaikan, agak dag-dig-dug-der sih saya. Merasa belum kompeten, dalam hal membagi ilmu. Merasa masih banyak kekurangan dan masih butuh belajar lebih banyak lagi.


Anyway, by the way, bus way ...
Ternyata saya merasakan sensasi yang menyenangkan selama sesi tanya jawab. Seperti dapat motivasi baru, pertanyaan yang masuk menjadi reminder buat diri saya juga.

Pertanyaan itu berbagai macam, mulai dari yang sesuai tema dan ada juga yang bertanya berkaitan dengan sibling rivalry. Beruntungnya saya sudah mengalaminya, dan sudah trial and error terkait itu. Sehingga bisa berbagi sedikit pengalaman.

Awalnya saya takut kalau nanti bakal sepi atau kalau tidak bisa menjawab pertanyaan. Masukan dari kadiv saya agar menjawab sesuai dengan pengalaman saja. Alhamdulillah setelah selesai terasa lega.

Next time kalau sudah ada notula sharing session-nya akan saya cantumkan linknya ya teman. Ih ...akhirnya ya bisa nulis buat hari ini, bahagia banget akutu.

Sampai ketemu lagi ya....

Follow Us @sukmanyamega