Rabu, 15 Agustus 2018

,
 Jalan-jalan saya kali ini, ditemani oleh teman-teman lama saya. Salah seorang di antaranya adalah penduduk Liyangan. Darinya saya mengetahui banyak hal yang menyangkut Situs Liyangan. Lokasinya berada di lereng gunung Sindoro, di permukiman penduduk dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung

 Jiwa liar pendaki saya muncul disini, terpampang jelas gunung Sindoro yang membuat saya terhipnotis ... Eeeeaa. Bersyukur teman saya tidak ada yang hobi mendaki jadi tidak semakin terprofokasi.

 Perjalanan ini menjadi sangat menarik karena teman-teman yang menemani adalah teman semasa saya SMP, yang baru bertemu lagi setelah 17 tahun berpisah. Sama halnya dengan situs ini yang ditemukan kembali setelah ribuan tahun. Lamaan ini ya, dibandingkan dengan  kami. Dan ditambah satu lagi point plusnya ada adik saya yang bisa dimintain tolong jadi tukang poto. Hehe

Gapuro Dusun Liyangan, Desa Purbasari, Kec. Ngadirejo, Kab. Temanggung

Situs Liyangan berada di lereng gunung Sindoro

Untuk memasuki area situs, diwajibkan mengisi buku tamu terlebih dahulu. Dikarenakan saya bersama teman saya yang tinggal di sana, jadi bisa langsung menyusuri situs dengan bertanya-tanya ke teman saya tersebut, eh, kami terbebas dari biaya karcis. Yang sepertinya dalam kisaran 5.000 perak.

 Situs Liyangan merupakan situs purbakala yang kompleks, konon kabarnya merupakan penemuan yang langka, karena ditemukan indikasi adanya situs berupa permukiman, ritul dan juga situs pertanian. Situs purbakala yang awalnya dikenal dengan Candi Liyangan ini ditemukan pada tahun 2008, oleh penggali pasir vulkanik, salah seorang penduduk Liyangan yang bernama Slamet Paruji (45 th)

 Hasil penelitian terakhir menyatakan bahwa Situs Liyangan merupakan situs purbakala yang tertua di Indonesia yang pernah ditemukan. Didirikan pada Abad ke VI sebelum masa Mataram Kuno. Hingga Abad ke X, saat gunung Sindoro Meletus dengan hebatnya.

 Bagi saya pribadi bisa berkunjung secara langsung ke Situs Purbakala Liyangan ini, merupakan sesuatu yang amazing. Ini adalah salah satu wishlish trip eksplorer. Mengapa demikian?

 Ya karena, dengan hadir di sini membuat saya merasa lebih mengenal keagungan Sang Pencipta. Yang ditangan-Nya segala sesuatu mungkin terjadi. Liyangan Ilang Dening Guntur, yaitu peradaban Liyangan yang hilang tertimbun erupsi lahar letusan gunung Sindoro ribuan tahun silam.


Selamat datang di Situs Liyangan, anda sudah sampai di lokasi.

Keindahan Gunung Sindoro menjadi latar dari Peradaban kuno ini.
Foto ketika penggalian belum selesai

Menyimpan banyak sekali peninggalan purbakala

 Amazing, bagi saya ketika menelusuri situs permukiman Liyangan ini. Seakan hadir di sebuah desa di masa lampau yang memiliki peradaban tinggi. Bangunan kokoh, menampakan kemewahan dan kemegahan pada masanya. Yang tetap kokoh meski terkubur lapisan erupsi, lahar dingin dan lahar panas. Berupa pasir dan juga batu-batu besar, serta awan panas yang membakar jagung dan padi milik penduduk.

 Di seberang situs masih terdapat tebing yang memperlihatkan struktur lapisan tanah yang terbentuk oleh erupsi gunung Sindoro. Sisa penggalian yang sengaja dipertahankan untuk memperlihatkan dahsyatnya erupsi hingga terbentuk berlapis-lapis struktur tanah.

 Temuan berupa tempat peribadatan, dan situs ini konon sudah ada jauh sebelum peradaban Mataram Kuno sampai adanya peradaban Mataram Kuno. Yang hingga kini belum ditemukan relief ataupun prasasti yang menjelaskan tentang keberadaan situs ini.

Di belakang saya adalah Tempat peribadatan yang diatasnya terdapat yoni langka, dengan 3 liang.
Di paling atas bangunan terdapat yoni dengan lubang 3

 Situs ini kini dikenal dengan situs permukiman, bukan situs candi. Kalau di Jakarta ada Kota Tua kalau di Temanggung ada Kota Kuno. Yang memiliki area peribadatan, permukiman penduduk dan area pertanian. Dengan ditemukannya talud bangunan yang membetengi sebagai pembatas area, jalan batu dan juga perkakas rumah tangga. Serta ditemukan pula buliran gabah yang gosong terbakar erupsi gunung Sindoro.

Area dalam situs peibadatan yang dipisahkan oleh benteng/talud

Area Luar, temuan berupa talud dan jalan bebatuan yang tersusun rapi
 Sudah maju ya peradabannya, Di Abad ke VI sudah memiliki jalan lebar nan rapi. Kemungkinan di sini adalah area kadipaten atau bisa dibilang seperti kotamadya lah ya, sehingga menampakkan keanggunan struktur kota yang tertata.

 Ditemukan pula batu besar yang berlubang kotak dan juga bundar, kayu yang terbakar yang diindikasikan sebagai tiang penyangga rumah, yang ditancapkan pada batu. Kemungkinan rumah berbentuk rumah panggung berbahan kayu dan juga bambu dengan atap ijuk. Dengan ditemukan pula peninggalan sejarah berupa ijuk.


Sedimen berupa kayu (diperkirakan soko/tiang) rumah panggung

Sedimen ijuk yang tidak terurai, yang diindikasikan sebagai atap permukiman penduduk

Gabah yang gosong terawetkan oleh awan panas
Batu berlubang persegi tempat berdirinya tiang/soko rumah panggung

  Dan penemuan perkakas rumah tangga, pertukangan dan pertanian yang membuktikan bahwa di area tersebut adalah permukiman penduduk. Barang-barang penemuan masih di simpan di salah satu rumah penduduk.

 Dan ini merupakan tanda-tanda kebesaranNya. Sempat terlintas dibenak saya, apa gerangan penyebab hingga Allah menguburnya dengan material vulkanik yang begitu tebal. Wallahu a'lam, yang dapat diambil hikmahnya adalah Allah Maha Kuasa atas apa yang Dia kehendaki.

 Di masa silam penduduk Liyangan sudah memahami arsitektur yang hebat, pertanian yang maju, adanya temuan saluran air selebar 1 meter. Dan sadar akan bahaya dari bencana gunung meletus. Mereka telah meninggalkan perkampungan sebelum Erupsi terjadi.

 Tak sabar rasanya pingin melihat Kota Kuno Liyangan kembali, mengamati lagi benda-benda kuno yang menjadi saksi kehebatan penduduk Liyangan Kuno.

 Serupa dengan ketika kita mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan. Sebaiknya menggunakan payung karena meskipun angin semilir bertiup tapi terasa panas karena tidak ada perindang.

 Di area parkir juga sudah banyak penjual souvenir, Situs Liangan. Sebagai oleh-oleh perjalanan wisata. Ketika di Situs Liangan tidak banyak pengunjung yang berbarengan dengan gerombolan saya. Ada beberapa, masih sepi.

 Tetapi dusun Liyangan ini juga memiliki tempat rekreasi lain yang tak jauh dari situs. Yaitu, pemandian berupa kolam renang yang sumber airnya dari mata air Liyangan. Yang tidak pernah mati meskipun kemarau panjang. Bahkan alirannya semakin deras.

 Arsitektur kolamnya pun eksotis, disini ramai pengunjung. Dan perjalanan kamipun berlanjut ke kolam renang ini. Selengkapnya akan saya ulasan dalam postingan selanjutnya.

Minggu, 05 Agustus 2018

,


Ku bentangkan cintaku untukmu nak…
Kala engkau masih segumpal darah
Sebelum ruh terpatri di ragamu
Kututurkan betapa aku mendambamu
Betapa kumenantimu dalam rentetan panjang do’aku
Kubisikkan padamu Asma-Nya yang telah menciptamu

Nak…
Kucoba kalahkan  lemah ragaku kala itu
Tak ada payah yang tak terkalahkan
Saat tubuh lemahku kian melemah
Cinta untukmu menguatkanku
Hingga tangismu memecah keheningan
Membuncahkan cinta yang kian merebak
Ketahuilah nak, betapa indah engkau dititipkan untukku

Tawamu adalah obat yang paling mujarab
Tangismu adalah gelisahku
Engkaulah mujahid cilikku yang mempesona
Padamu kucurahkan seluruh kasih dan sayang
Padamu kuajarkan keimanan dan ketaqwaan
Padamu kuajarkan arti kehidupan
Kubekalkan padamu ilmu tauhid

Engkaulah surgaku kelak Nak…
Ladang  amal yang tiada putusnya
Ketahuilah nak…saat engkau mendustaiku
Air mata ini mengalir, hati ini menjadi pilu
Bukan karena amarahku padamu pelita hatiku
Melainkan betapa aku gagal mendidikmu
Betapa aku tak bisa menjaga amanah-Nya

Tahukah?;  engkau pelitaku,
Saat engkau lalai dalam sholatmu
Betapa diri ini malu kepada-Nya
Betapa diri ini tak layak dalam syurga-Nya
Akupun akan terjerumus dalam neraka-Nya jika kudiamkan kau
Sholatlah engkau Nak, sebagaimana aku sholat

Ketahuilah Nak…
Kala engkau menjadi  anak yang solehah
Air matakupun kian menganak sungai
Bukan karena  nestapa
Melainkan kebahagiaan yang tiada tara untukku
Syurgalah yang telah dijanjikan-Nya untukku

Anakku sayang,
Kini engkau telah menjadi mujahid sejati
Usai sudah tugasku kini
Kuhantarkan engkau kepada jalan-Nya
Jalan menuju pintu syurga-Nya
Jadilah anakku yang solehah
Agar ladang pahalaku tiada terputus
Subhanallah, betapa bunda menyayagimu
Kembali kusenandungkan cintaku untukmu nak, pelita hatiku

Bekasi, 8 Februari 2011 lalu
Karya : Sukma Meganingrum

Follow Us @sukmanyamega