Sabtu, 28 Juli 2018

,


/1/
TKW bermasalah; 1,5 tahun bekerja sudah dipulangkan
Begitulah yang terucap dari bibirku
Sepanjang lorong bandara Soekarno-Hatta
Warta bagi para calo¹
Algojo yang tak kenal ampun
Siap melahap habis gaji TKI

Mereka pun percaya
Dilihatnya aku yang kurus dan pucat pasi
Bagaimana tidak
Setengah bulan ini, aku bergelut dengan maut
Berjuang bersama konsuler kedutaan Indonesia²
Aku lolos dari tuntutan pidana mati

Namaku Sutarmi,  Ami begitu mereka memanggilku
Aku masih bergidik
Mengingat proses peradilanku
Syukur masih kulantunkan hingga kini
Dengan kuasaNya
Bahasa yang baru kumengerti
Meloloskanku dari maut


Lantang suaraku membela diri
Aku memang tak bersalah
Aku tak mau kalah
Di hadapan hakim, jaksa, dan penuntutku
Dihadapan wakil indonesia yang membelaku

Amarah dan kalut merajaiku
Kenapa harus begini, ya ... Rabb?
Belum genapkah nestapa bagiku?

Hari di saat vonis dijatuhkan
Terasa berat langkah kakiku
Teringat anakku
Tergambar kematian
Jiwaku serasa telah hilang, aku rapuh

Lalu bak tersambar petir
Tubuhku berguncang hebat
Peluh membanjiri tubuhku
Ya Rabb, maafkanlah aku
Aku berlindung kepadamu dari segala ketetapan-Mu
Jangan biarkan nyawaku tergadai fitnah

Lalu; Entah kekuatan dari mana
Tatkala aku berdiri tegak di atas kursi pesakitan
Membeberkan perkara demi perkara
Lantang dan kian lantang

Mulutku terasa kecut
Tenggorokan kering
Hanya wajah anak-anak yang terbayang
Entah hidup atau mati
Aku harus berjuang hingga akhir

/2/
Masih segar dalam ingatan
Semburat jingga di langit Tulung Agung
Ba’da sholat maghrib berjama’ah
Aku, dan kedua putriku
Saat kuutarakan keinginanku menjadi TKW
Sekaligus berpamitan

Kesunyian mencekam, mereka tertunduk diam
Hanya air mata yang menjadi jawaban
Tangis pun pecah
Tanpa suara, sesekali terisak
Mereka pun berhamburan memelukku
Tanpa kata

Biar kalian bisa melanjutkan sekolah
Biar rumah kita menjadi bagus
Biar ibu punya cukup modal buat berdagang
Ibu rela membanting tulang demi kalian
Ibu mau ke Taiwan, jadi perawat orang jompo

Kalian baik-baik ya di sini
Kalian yang rukun
Kalian anak-anak ibu yang kuat
Do’akan ibu ya Nak!

Bait perpisahan yang kuucap kala itu
Beradu murut bisu badan mematung
Janda sepertiku ini apalagi yang bisa kuperbuat
Menitipkan anak kepada familiku
Lalu mengadu nasib di tanah seberang
Mencari kehidupan yang lebih baik³

/3/
Umurku hampir 35 tahun
Sudah tak muda lagi untuk menghafal
Butuh kerja ekstra
Mempelajari bahasa asing⁴
Belajar budaya negri Taiwan

Belajar banyak hal
Cara merawat orang jompo
Hari berganti minggu
Rasanya ingin segera diberangkatkan
Terbang ke negeri orang

Tiba harinya aku layak diberangkatkan/5
Ilmuku sudah mumpuni
Namun tertunda; aku unfit/6
Harus diinjeksi
Menunggu pemulihan seminggu

Tak ada kerabat yang membesuk
Tidak jua kedua putriku
Uang yang kutinggalkan tak seberapa
Hanya cukup sampai kelak kukirim gaji pertamaku
Itu pun jika aku segera berangkat


Gelisah acap kali menyergapku
Bagaimana jika aku unfit lagi?
Bagaimana jika akhirnya gagal berangkat?
Bagaimana pula kubayar hutangku?
Bagaimana nasib anak-anakku?
Manusia memang hanya bisa menerka
Sesungguhnya kepastian itu hanya milikNya

Kuketuk pintu-Mu lagi ya Rabb
Seperti malam-malam sebelumnya
Kali ini lebih panjang
Kuhadirkan khusyukku lebih dalam

Izinkan hamba berangkat ya Allah
Menenjemut mimpi besar
Mudahkanlah jalan hamba dalam mencari nafkah
Lindungilah anak-anak hamba
Berikan ketabahan dan kesabaran
Aamiin ya Rabb

Kuikhlaskan segala kehendak-Nya
Ku peluk malamku
Hingga pagi menjemputku

/4/
Babak baru di hidupku telah dimulai
Kian jauh dari anak dan sanak
Namun do’a mereka terasa erat memeluk
Memupuk semangatku
Mendekap langkahku tanpa bahasa

12 Oktober 1998
Kulangkahkan kakiku di Bandara Taipei
Bertemu dengan majikanku
Lalu ; Bahasa apakah ini?/7
Tak sama dengan yang kupelajari

Dua hari berlalu
Tak makan apapun
Tak jua bekerja
Aku diam seribu bahasa


  • Diteleponkan agency-ku; oleh majikanku

Ia (majikan) mengadu
Begitu pun aku
Aku tak diberinya makan
Aku tak bisa bekerja
Aku tak tahu Ia bilang apa
Ini bahasa apa?

Agencykupun datang membesuk
Diurusinya perihal laporanku
Lalu dituntun aku; oleh majikanku
Ini makananmu, ujarnya dalam bahasa Mandarin
Enam kotak cantik tak tersentuh
Di meja kerjaku
Kotak warna-warni berisikan makanan

Agencyku berpamit
Setelah menjelaskan runtutan pekerjaanku

Aku merasa geli
Melapor tak diberi makan
Rupanya benar kata orang
Memang bahasa pemersatu bangsa

Majikanku sangat baik
Terutama Akong, kakek jompo yang kurawat
Tak lama aku bersamanya
Aku dipindahkan karena akong meninggal

Kembali menerka; bagaimana aku, selanjutnya?
Rupanya nasib baik memihak
Aku pindah ke Taipei
Meninggalkan bahasa hokkien yang sulit

Ruang istirahatku
Ada pengatur suhunya
Televisinya sebesar tivi pak lurah
Disediakan kulkas pribadi
Sangat rapi hanya ada tombol dan handel di tembok

Kasurnya baru, lebar dan empuk
Seragamnya menggunakan jas safari layaknya anggota dewan
Bersepatu vantovel
Jadwal kerja menempel ditembok
Sekarang aku seorang suster, suster Ami

/5/
Jadwal kerjaku padat dan harus cekatan
Agar lekas beristirahat
Kawanku banyak
TKW asal Indonesia lainnya
Sebagian juga berasal dari Filipina/8
Warna kulit kita sama

Aku betah disini
Mereka ramah dan baik
Tapi rinduku pada kampung
Dan buah hati kian terasa
Kerinduan itu kulebur dengan kerja keras

Beruntung ada Indonesia di tivi Taiwan
Namun Indonesia yang asing bagiku
Pedalaman yang tidak ada listrik
Perkampungan kumuh di Ibukota
Suku pedalaman yang telanjang dalam keseharian

Pantas ya kalian bekerja disini
Rumah kalian jelek
Apa disana kalian juga tidak memakai baju?
Kenapa kalian datang dengan berambut pendek?
Apa karena tak mampu membeli shampo?

Aku tak tahan dengan ocehan mereka
Indonesiaku subur
Indonesiaku penuh dengan panorama indah
Kalau aku miskin dan menjadi babu
Bukan lantaran Indonesia miskin
Karena aku butuh modal
Dan beginilah hidupku agar tak terlilit hutang pada rentenir dikampungku

Lalu; tayangan berbeda menghiasi layar
Tentang Indonesiaku
Gentingnya perang saudara di Poso-Ambon/9
Suasana sangat mencekam
Parang-parang panjang
Tembakan menderu
Dan wajah bengis memenuhi layar

Sabetan parang menikam putus kepala bocah
Dilemparkannya kedalam tong sampah
Sungguh keji
Rumah warga dibakar tak terkecuali rumah Allah
Penjajahan terhadap kaum minoritas Ambon
Konflik terhadap kaum islam sebangsaku

Aku menjerit tertahan
Ketakutan mengendap
Lambat-lambat kian menohok jantungku
Bagaimana dengan anakku?
Amankah mereka disana
Darah yang mengalir membuyarkan ketabahanku

Kudapati kabar mereka aman
Konflik tak meluas
Kabarpun tak terpampang jelas disana
Layaknya hembusan
Tak setiap mata bisa melihat
Tak setiap kuping bisa mendengar
Masih ditutup rapat dari masyarakat luas

Mungkin agar kerusuhan tak menular
Di Indonesia sepi berita
Semakin lama kabar di Taiwan mereda
Lalu berhenti
Mungkin sudah berdamai

/6/
Libur yang kuambil sebulan sekali
Agar uang yang kukirim bertambah

Saat pulang nanti
Kan kuceritakan
Pertanian disini maju
Hasilnya melimpah dan beraneka ragam
Ada bayam ungu, merah
Begitupun sayur kol
Nangka disini ajaib, kulitnya berwarna-warni
Begitupun dengan rasa dan warna isinya

Perikanannya tak klah maju
Kolamnya luas-luas
Airnya jernih, bisa kulihat aneka macam ikan
Ukurannya ada yang super besar
Itu yang kutemui
Saat kudorong kursi roda
Mengajak ama dan akong jalan-jalan sore

Jalanan disini lebar, lengang dan bersih
Pemandangannya indah
Ketika bertani mereka memakai baju layaknya astronot
Mengoperasikan traktor berbentuk mobil besar
Pernah kutemui wanita cantik dibalik baju astronot itu

Bangsa ini lebih ramah dibanding di negaraku
Mereka yang makmur berkecukupan tetap ramah menyapa
Meskipun aku babu dari Indonesia
Tak segan menawarkan hasil panen mereka
Digantungkannya dikursi yang kudorong
Untuk ku cicipi nanti

/7/
Aku naik pangkat
Ditunjuk sebagai suster kepala
Mengepalai TKW Indonesia dan Filipina
Namanya Amai, temanku
Dia berumur 3 tahun lebih tua dibanding sulungku
Dia memanggilku bunda

Kesehatanku memburuk
Aku sering pingsan
Waktu itu ditemukan aku terkapar dalam lift
Disamping kursi roda Ama

Aku diifus
Obat disini mujarab
Seketika langsung sehat dan bugar
Kembali bekerja
Lalu diinfus lagi pada jam istirahat

Amai, remaja asal cirebon
Dia membuatku kerepotan ulah dengan ulahnya
Hobinya meminum alkohol itu merisaukan
Membuatnya lalai akan tugasnya
Lupa waktu dan ceroboh
Sesekali kelantur jadwal pemberian obat

Upayaku mendidiknya kandas
Dan pil pahit harus kutelan mentah-mentah

Akong Liu Wei meninggal
Kemungkinan salah kasih obat
Mana suster Ami, suster kepala penanggung jawab ruang obat
Dia harus bertanggung jawab, celetuk salah seorang
Sayup-sayup kudengar kabar

Satu jam berlalu, suasana menjadi genting
Pihak keluarga tak terima, mereka menuntutku
Mencengkeramku ke jalur hukum

Selang infus inilah saksiku
Bahwa aku tak memberikan obat itu
Aku berbaring dengan cairan infus mengalir ke tubuhku
Menghabiskan waktu istirahat soreku
Tak tahu menahu
Terperanjat bingung

Aku masih tak bergeming
Bingung
Apa yang harus kuperbuat
Dengan kasusku dan sistem peradilan disini

Waktu menjadi sangat cepat bergulir
Telepon genggamku tak henti-hentinya berdering
Menelepon, ditelepon
Aku berlindung dibalik payung hukum Indondonesia
Wakil indonesia di Taiwan sangat amanah

Namanya Amai, dialah dalang dibalik semua ini

Dia mabuk
Lalu mencuri kunci obat dariku
Meminumkan ke akong obat
Namun tak serta merta aku mengutuknya
Tak lantas pula aku melempar kesalahan padanya
Aku tak tega

Mencari solusi
Kian tegas wajah-wajah anakku dipelupuk mataku
Aku akan lolos demi mereka
Aku menangis menciumi sepucuk surat
Surat manis dari anakku yang baru kuterima
Datang bak perisai do’a terindah untukku

Ibunda
Sembah sungkem kami haturkan
Kami berdua telah lulus ujian dengan baik
Nilai kami memuaskan
Aku diterima di SMK unggulan, sulungku mengisahkan

Kami merindukanmu ibunda
Kami selalu mendo’akan ibunda
Agar ibunda sehat, kuat dan selamat
Semoga Allah melindungi ibundaku
Lebih dari perlindungan siapapun
Kami menunggu kepulangan ibunda
Semoga ibunda bisa lekas pulang, amiin

Persidangan demi persidangan ku lalui
Hujatan dan makian tak terelakkan
Pembunuh, begitu pilu ku dengar
Aku tumbang
Terkapar kembali dengan selang infus

Konselor kedubes Indonesia selalu disampingku
Mendukungku
Membimbing banyak do’a mujarab
Yang mampu menenangkan hati
Pergulatan batin telah kumenangkan
Aku kembali bangkit

Kali ini aku lebih garang dari sebelumnya
Kupanjat kursi, lalu berdiri di atasnya
Pandangan mataku menantang siapapun
Memandang tajam hakim dan jaksa
Aku lantang berbahasa mandarin

Aku suster Ami, sedang dalam waktu istirahat sore
Aku sama sekali tidak menyentuh akong
Apalagi meracuninya dengan obat
Aku bukan pembunuh, semua ini fitnah

Bukankah akong pulang berlibur dengan keluarganya
Keluar panti bersama anak dan cucunya
Lalu apa saja yang dia makan
Kenapa membuatnya keracunan dan meninggal

Mereka saling pandang satu sama lain
Ada yang mengangguk dan membenarkan ungkapanku
Aku tak bergeming, tetap berdiri tegak
Meski peluh membanjiri dan tulang serasa akan rontok

Keadaan berbalik
Saat anak akong mengaku
Memberikan makanan yang tidak seharusnya diberikan
Karena Akong merengek
Mereka mencabut tuntutan terhadapku

Kini aku kembali memeluk buah hatiku
Perisai do’a terindah yang mereka kirimkan
Mampu mengirimku pulang pada mereka
Kulanjutkan hidup yang sempat tergadai fitnah
Sambil terus mengucap syukur
Terima kasih atas bantuanmu wahai wakil Iindonesia di Taiwan



¹Calo yang meresahkan para TKI dan TKW dengan berbagai tipu daya mengambil untung dari hasil kerja para pahlawan devisa.
Praktik Calo TKI di Bandara Soetta Diduga Libatkan Petugas http://kabar-banten.com/news/detail/14482 dan Cerita Calo Pemulangan TKI di Bandara Soekarno Hatta
http://m.detik.com/news/read/2013/01/27/190027/2153451/10/cerita-calo-pemulangan-tki-di-bandara-cengkareng

²Pelindungan terhadap TKI yang berada di Taiwan lebih baik dibanding dengan yang berada di Saudi Arabia ataupun di Malaysia. http://kdei-taipei.org/id/index-php?option=com-content&view=artickle&id=365:pelayanan-perlindungan-tki-yang-dilakukan-kdei-taipei&catid=34:berita&itemid=55
http://www.antaranews.com/print/256451/indonesia-taiwan-sepakati-perbaikan-perlindungan-tki

³Iming-iming gaji yang besar sehingga dalam waktu singkat sudah bisa mengumpulkan banyak uang
http://kommedia.blogspot.com/2012/10/gaji-tki-/terbaru.html?m=1

⁴Yang dilakukan selama dalam penampungan adalah membekali diri untuk bisa bekerja di luar negri. http://www.infobizdanbmi.com/2012/01/beberapa-hal-selama-di-penampungan.html?m=1

5 TKI akan diberangkatkan setelah lulus dalam ujian kompetensi dan medical check up. http://bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/446-finger-print-untuk-uji-kompetensi-calon-tki-html dan http://bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/4300-jumhur-kesehatan-tki-syarat-utama-berangkat-ke-luar-negri.html

6Dinyatakan unfit, bisa dikarenakan calon TKI menderita cacingan. Di beberapa negara apabila TKI menderita cacingan, akan dipulangkan ke negara asalnya. http://bnp2tki.go.id/berita-mainmenu-231/4300-jumhur-kesehatan-tki-syarat-utama-berangkat-ke-luar-negri.html dan http://kdei-taipei.org/artikel/imigrasi/modul1.html

7Bahasa nasional Taiwan adalah mandarin sedangkan bahasa traditionalnya adalah bahasa Hokkien. http://groups.yahoo.com/group/budaya-tionghua/files/kumpulan%20artikel/budaya%20sastra/bahasa http://d.wikipedia.org/wiki/bahasa-taiwan http://id.wikipedia.org/wiki/bahasa-hokkien

8Selain tenaga kerja asal Indonesia, Taiwan juga menyerap tenaga kerja dari beberapa negara berkembang lainnya, seperti Filipina. Namun persentase terbanyak adalah dari Indonesia. http://m.republika.co.id/berita/international/global/11/04/28/ikcirs-taiwan-paling-banyak-tampung-tki

9Perang saudara ke-2, yang terjadi di Poso, serangan berlangsung lama dan menewaskan beberapa jiwa umat islam di Ambon. www.andriandw.com/peristiwa.ambon.html

BIODATA RINGKAS
Nama : Sukma Meganingrum
Alamat email :  sukmameganingrum@gmail.com
Akun Facebook : Sukma Meganingrum
Akun Twitter : @sukmanyamega
Akun Instagram : @sukmanyamega

Follow Us @sukmanyamega