Jumat, 10 April 2020

,
"Seharusnya jangan mudik dulu, ini kan sedang ada Corona, mana dari Bekasi lagi." Begitu yang kutangkap dari cara mereka memandangku.


Saya pun inginnya demikian, tetapi apa boleh buat, ketika abinya anak-anak berkehendak. Kita harus mudik di waktu yang telah ditentukannya. Seperti yang sudah-sudah, saya selalu kalah jika memaksakan berdebat dengannya.

"Halah, kebanyakan orang pinter sekarang ini, masjid pada di tutup tapi pabrik-pabrik masih tetap beroperasi." Begitu tudingnya sebelum aku melontarkan alasan.

"Lihat tuh, pasien 01, 02, & 03 sudah sehat dan berkeliaran, kaya gitu kok terlalu takut, asalkan kita imunnya kuat nggak jauh beda dengan flu biasa." Terangnya, membuatku malas mendebat.

"Apa sih yang ditakutkan? Kalau waktunya mati ya mati. Setiap hari juga ada kok orang mati." 

Memang betul apa yang dikatakan suamiku. Mati, sakit, rezeki itu Allah yang sudah mengaturnya. Dan sekali-kali tidak bisa mendustakan jika virus corona ini berhadir di muka bumi atas kehendak Allah. Sudah salah kaprah jika selama ini menyematkan rasa takut terhadap virus. Seharusnya ketakutan kita hanyalah pada Allah semata.

Pagi itu aku merasa tak enak makan, hingga membuat maag-ku kambuh. Sungguh, berandai-andai atas segala kengerian itu membuatku merasa tak berdaya.

Aku ngeri untuk melakukan perjalanan terlebih dengan angkutan umum. Aku menyampaikan informasi perihal kedatangan kami kepada keluarga di kampung, dan menyiapkan diri untuk menjadi ODP (orang dalam pantauan) saat kelak sampai di kampung halaman.

Tidak di sarankan untuk bepergian di saat pandemi gaes, lebih seram ketimbang nonton film horor.

Malamnya aku tak bisa tidur hingga akhirnya aku mengadukan segalanya pada Sang Pencipta Virus Corona. "Ya Allah, andai mudik baik bagiku dan keluargaku di kampung maka lancarkanlah, jika kami berpotensi membahayakan orang tua maka cegahlah kami, sungguh hanya kepada-Mu aku berlindung."

Meleleh air mataku, membayangkan jika diriku menjadi penyebab virus ini menyambangi kampung halaman. Terlebih jika sampai menginfeksi orang tuaku. Berat sekali apa yang kubayangkan. Ini tidak berlebihan bagiku yang sebenarnya visioner. Tidak hanya berpikir untuk saat ini, tetapi mempertimbangkan bagaimana efek bagi kehidupan mendatang.

Beberapa bulan lalu, aku merindukan kampung halaman. Sungguh dua tahun tak pulang itu sangat berat rindu pada orang tua. Meski setiap hari berkabar melalui gawai. Namun saat pandemi ini aku benar-benar sudah mengubur keinginan itu.

Mungkin Allah telah mengabulkan sebagian do'aku yang dulu, hingga benar-benar akan tiba ke kampung halaman.

Hari menuju keberangkatan kami sudah di depan mata. Aku masih belum berkemas, baju anak-anak dimasukkan oleh suamiku, dan akhirnya aku membantunya. Dia bertanya apa aku tidak menyiapkan bajuku? Aku memang hanya mengenakan baju yang menempel di badan.

Biarlah cuci kering pakai saja, toh di tempat Ibu masih ada baju untuk #DiRumahAja. Beberapa hari semenjak Abi mengabarkan bahwa kami harus pulang kampung, anak-anakku sangat girang.

Namun aku memberitahukan bahwa dalam perjalanan nanti harus duduk saja, tidak boleh banyak bergerak dan apalagi memegang apa-apa yang ada di sana.

"Mbak pernah kan berpuasa, puasa itu ngapain aja?" tanyaku pada sulungku yang dijawab sempurna.

"Sudah pernah lah, puasa itu tidak boleh makan dan minum dari matahari terbit hingga terbenam." Ia berkata seperti biasanya.

"Nah, besok ketika kita pergi ke tempat Uti, semenjak Mbak keluar dari rumah, itu Mbak juga berpuasa, tapi puasa kita ini #LawanCorona. Kita tidak perlu menyentuh apapun di sepanjang perjalanan, termasuk ketika kita berada di dalam kereta, dan selalu memakai masker."

Hari Keberangkatan Menuju Kampung Halaman

Perjuanganku melindungi anak-anakku, melindungi keluarga di kampung halaman. Sebab, Allah mengizinkan kami berangkat, tidak ada aral yang merintangi kami sepanjang perjalanan. Dalam benak, aku membayangkan jika nanti diperjalanan tiba-tiba dihentikan oleh aparat karena dilarang bepergian, itu harapanku. Namun tidak, itu hanyalah ilusi belaka.

Kami berangkat menuju stasiun, sudah lengkap dengan hands sanitizer dan sabun di tas kecilku. Mempersenjatai diri dengan mengenakan masker dan  do'aku masih tetap sama, "Ya Allah, jika mudik kami baik bagi orang tua di kampung maka lancarkanlah, jika kami berpotensi mendatangkan bahaya bagi keluarga di kampung, maka cegahlah kami."

Aku bukan seseorang yang tidak membaca berita, tidak mengetahui himbauan pemerintah, aku hanya berusaha untuk mengikuti keinginan imamku.

Terbayang juga jika nanti anak-anak terpapar virus di perjalanan. Menyiapkan mental untuk menerima tudingan dari banyak pihak, serta menyiapkan diri berperang melawan virus yang tak kasatmata. Itu tidak sulit pun tidak mudah, dibutuhkan strategi dan keyakinan yang kuat.

Tiba di Stasiun

Stasiun tampak lengang, benar ini memang bukan jam sibuk, terlebih banyak di antara mereka sudah mendapat anugrah work from home (WFH). Pada kereta listrik pengaturan tempat duduk berlaku. Untuk bangku panjang, hanya untuk empat penumpang, sedang tempat duduk prioritas hanya boleh dua orang saja.

Anak-anakku memeluk bonekanya masing-masing. Demikian cara kami agar mereka tak sembarangan memegang. Kedua tangan mereka sibuk memegang boneka. Sementara itu masker yang mereka kenakan pas—tidak melorot—sehingga mereka tidak merasa ingin membetulkan masker.

Kami tahu penularan virus Corona, melalui tangan yang memegang benda yang terdapat droplet dari penderita. Bisa masuk melalui mulut, hidung juga mata. Serta menjaga diri kita untuk tetap berjauhan—sosial distancing—dari orang lain agar tidak terkena droplet jika ada penderita di antara kami.

Abinya anak-anak yang mempersiapkan segalanya, mulai dari masker kami, multivitamin, hands sanitizer, serta sari kurma.

Orang tua mana yang berani gambling, mengenai keselamatan anak. Kami berupaya maksimal agar kemungkinan tertular tidak ada.
Virus corona sudah membuat aku terkadang bukan sekadar waspada tetapi lebih condong berprasangka buruk (su'udzon). Sebelum memasuki kereta antar provinsi yang akan kami tumpangi. Penyemprotan disinfektan dilakukan dan pengecekan suhu.

Harus vit Gaes, kalau kamu sakit #DiRumahAja, pasti akan disuruh pulang saat itu juga. Ingat positif corona itu tidak harus menunjukkan gejala, dan bisa sembuh asalkan imunitas tubuh kuat. Kalau kamu nggak kuat biar Dilan saja, kamu #DiRumahAja.

"Mbak, puasa #LawanCorona kita masih dilakukan ya, sampai nanti kita betul-betul sampai tujuan." Semangat kutularkan pada anak-anak.

Ya Mujib, berkahilah perjalanan kami dengan kesehatan, jauhkan kami dari keburukan virus corona.

Tak sekadar upaya, kusematkan do'a pada-Nya. Aku memang selalu mengandalkan-Nya di saat aku tak bisa berkutik melawan apa pun. Di saat pikiran rasional tak mampu menjangkau, di saat ketakutan menyelimuti.

Kau tahu? sebelum ada Corona aku juga wanita yang selalu #DiRumahAja. Bukan karena jenuh berada di rumah. Namun memahami keinginan suami hendak bertemu ibunya yang dirindukan. Jangan pikir kami mau orang tua kami celaka dengan pulangnya kami. Mereka adalah harta yang paling berharga di dunia ini.

Tentu kami menjaga diri kami agar tidak tertular covid-19. Aku menangis saat diputuskan pulang.

Saat Berada dalam Kereta

Boneka yang dipeluk tak boleh sampai jatuh. Kedua putriku memeluknya dengan erat. Betapa virus tak kasatmata itu merepotkan. Di perjalanan aku sudah menyiapkan setumpuk buku dalam tas. Membacakan satu per satu, dan permainan kecil yang membuat puasa memegang benda-benda menjadi sukses. Seperti bercerita lalu kuis, menyuruhnya untuk tidur.

Bisa dibayangkan jika anakku yang super aktif, dan sehat, sangat sulit untuk duduk diam. Siang itu di perjalanan, kubacakan E-book karya Kak Azka Azra. Cerita covid-19 untuk anak dalam balutan iman Islam.

Berkisah bahwa virus corona ini adalah makhluk-Nya, yang patuh pada perintah-Nya. Jangan takut dengannya takutlah dengan Allah. Lalu kubisikan pada mereka bahwa aku mencintainya, ingin mereka sehat. Memberitahukan apa yang harus dikerjakan hingga tiba di tempat Uti.

Sampai Tempat Tujuan

Malam sudah menghampiti katulistiwa, Weleri sudah lengang, pedagang pasar sudah beranjak pulang. Sejengkal menuju status ODP (orang dalam pemantauan), kami berempat menambah daftar ODP di Temanggung menjadi lebih dari seribu orang.

Menjadi ODP itu asyik, ditakuti banyak kalangan. Tak ubahnya nabi Ayub 'alaihis-salam, dikucilkan karena takut tertular.

Stasiun tujuan kami tak ada pemeriksaan suhu atau pun penyemprotan. Aku bergidik ngeri mengingat perjalananku. Seperti pecundang yang ketakutan saat melintasi sarang dedemit. Antara ilusi, halusinasi dan kenyataan saling mengecoh.

Mobil merah melaju menembus malam, melintasi alun-alun Sukorejo. Udara dingin mulai menembus sungsum. Tak terasa sudah terparkir di depan rumah Uti.

Petugas posko pencegahan penyebaran Covid-19 menghampiriku, sepuluh meter dari rumah ibuku terdapat posko. Kami disemprot disinfektan, dan diukur suhu. Suhu tubuh kami berempat kisaran 30,2~30,6°C.

Cerita selanjutnya tentang bagaimana kami menjadi ODP. Tulisan ini dibuat saat kami berstatus ODP hari ke-8. Kisah ODP kami nanti ya setelah kami masih tetap hidup hingga ODP berakhir, enam hati lagi Gaes. Sabaaar!!!

Senin, 16 Maret 2020

,
Belajar tidak mengenal usia, bisa dilakukan sesuai dengan kecenderungan masing-masing orang. Seseorang bisa melakukan hal itu dengan otodidak, bisa juga dengan bantuan fasilitator (mentor).

Saya ingin bercerita tentang, bagaimana cara saya belajar memperbaiki tulisan. Blog ini merupakan pencatat fase menulis saya. Pada awal menulis, saya cenderung mencurahkan segalanya. Tanpa memahami kaidah penulisan.

Saya mengikuti kelas menulis karena ingin menerbitkan karya awalnya. Namun, setelah mengikuti kelas menulis ternyata tulisan saya sangat berantakan. Kesalahan ada di sana-sini. Maka pada kesempatan selanjutnya saya kembali mengikuti kelas menulis untuk memperbaiki teknisnya.

Kesalahan ejaan serta teknis penulisan itu sangat fatal, mengurangi kenyamanan pembaca.

Sebelumnya saya akan mengajak anda untuk menemukan passion Anda. Benarkah menulis adalah sesuatu yang membuat Anda berbinar, merasa mudah, dan membuat anda ketagihan?


Mengaktualisasi diri dengan potensi yang dimiliki, adalah hal yang membuat kita bahagia. Kita sedang melakukan pekerjaan di mana tubuh kita memiliki support sistem. Tak akan lelah dan bosan, Ferguso!

Petunjuk Allah sepertinya, saat teman memberitahukan bahwa beliau terlibat dalam penulisan buku parenting berjudul Mendidik Jangan Mendadak, buku tulisannya bersama teman-teman, pada akhirnya bisa tembus 1000 eksampler dalam 3 kali cetakan.

Dalam diri saya muncul keinginan untuk memiliki karya. Tanpa pikir panjang saya langsung ikut kelas menulis tema Merentas Jejak Asa. Tema tersebut disepakati sebagai judul buku.

  
Buku pertama hasil belajar di RAI

Kelas yang saya ikuti ini sebuah komunitas yang memiliki nama Rumah Antologi Indonesia, biasa disebut RAI.

Bagaimana Kelas Belajar RAI?

RAI ini menurut saya istimewa, baik sistem belajarnya maupun ilmu yang ditawarkan. Kelas menulis ini sangat cocok untuk pemula. Penjabaran materinya lengkap dan memahami apa yang dibutuhkan pemula dalam memulai sebuah tulisan.

Kelas belajarnya daring, mencakup seluruh wilayah Indonesia pesertanya. Saya belajar bersama teman saya yang berada di Medan, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Bali, Lombok. Sedang saya sendiri berada di Bekasi, Jawa Barat.

Materi dan juga praktik sangat menantang, kebahagiaan hakiki itu ketika waktunya koreksi tugas. Saatnya mengosongkan gelas dan mengisi dengan banyak hasil koreksian teman. Belajar PUEBI dan KBBI itu lebih mendalam dari hasil koreksian.

Bukan kesalahan pribadi saja bahan belajarnya, bahkan kesalahan semua teman memperkaya diri. Bayangkan jika satu kelas ada 40 orang, beragam kesalahan baik cara penulisan maupun kesesuaian dengan KBBI.

Banyak di antara kami, kembali mendaftar pada tema yang lain. Sebab merasa betah, terlebih merasa ingin semakin baik lagi. Bukan hanya itu, ingin mengukir keabadian dengan  menulis buku.

Buku-buku Karya Saya Bersama RAI
Sebelumnya saya ada 2 karya antologi, ini buku ke-2 bersama RAI, setelah buku Merentas Jejak Asa

  • Buku ke-3, antologi quote

Buku ke-4, antologi puisi

Buku Ke-5, bertema wanita tangguh.

Buku ke-6, bertema pejuang skripsi

Buku ke-7, antologi quote batch 2

Beberapa masih dalam pengerjaan, seperti tema parenting 3, bullying, hati seluas samudra, dan juga tema homeschooling. Semoga senantiasa tetap produktif hingga kelak bisa menyelesaikan buku solo.

Pengalaman Baru Menjadi Class Leader RAI

November 2019, founder RAI, Teteh Rizka (RAI Adiatmadja) menawarkan kesempatan pada saya untuk menjadi salah satu dari beberapa RAI class leader. Tema kelas yang saya ampu saat ini yaitu tema homeschooling.
Kelas pertama sebagai leader, sedang berjalan

Kelas sudah berjalan, menuju materi terakhir dan pengumpulan naskah. Kelas homeschooling ini sewaktu mencari kontributor memakan waktu lama. Namun ketika kelas sudah penuh kuota, ada beberapa yang masih berminat. Semoga setelah ini bisa buka tema HS batch 2.

Kelas kedua sebagai leader, masih buka pendaftaran

Kelas tema baru juga sedang dibuka yaitu kelas dengan tema 'Kalau Cinta Sebatas Permen dan Cokelat.' Baru beberapa orang yang bergabung dalam kelas ini. Jika ingin bergabung belajar bersama RAI, silakan klik di sini.

Tema yang diampu oleh leader lain ada banyak, untuk mengetahui bisa klik bit.ly/RAIgrup. Berharap agar ke depannya RAI membuka kelas menulis artikel, opini, dan mentoring buku solo. Semoga kontributor RAI bertambah banyak, dan RAI makin maju dalam berkarya.

Tak perlu menjadi seorang pakar untuk bisa menulis ...

—RAI Adiatmadja—
,

Mewabahnya virus Covid-19 ini menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh semua lapisan masyarakat. Baik anak-anak maupun orang dewasa. Pemerintah menghimbau agar aktivitas bisa dilakukan di rumah dalam kurun waktu dua pekan.

Supaya anak terkondisi belajar di rumah dan tetap nyaman. Coba yuk beberapa kegiatan indoor berikut ini. Biasanya liburan sekolah dua pekan sering kali dihabiskan dengan berjalan-jalan. Namun demi keamanan bersama kita harus stay at home.

πŸ”˜Membuat Prakarya dari Bubur Kertas

Bunda di rumah memiliki banyak kertas yang sudah usang dan tidak terpakai, ini bisa dimanfaatkan untuk membuat tempat pensil atau mainan lainnya. Sebelum membuat bentuk yang diinginkan. Kita harus membuat bubur kertas terlebih dahulu. Siapkan alat dan bahan.

Alat dan Bahan
  • Kertas bekas
  • Lem kayu atau tepung sagu
  • Air untuk merendam
  • Baskom
  • Garam
Cara Membuat Bubur Kertas

  1. Potong/sobek kertas menjadi bagian yang kecil, masukkan pada baskom.
  2. Tambahkan air untuk merendam seluruh kertas.
  3. Tambahkan garam pada air rendaman, aduk hingga rata.
  4. Diamkan selama 2 hari.
  5. Lumatkan kertas hingga menjadi bubur, bisa dengan diblender, agar hasilnya halus.
  6. Saring kertas, buang airnya.
  7. Peras hingga kadar air menipis, kertas sudah tidak mengeluarkan air lagi.
  8. Tambahkan lem kayu atau tepung sagu yang sudah dimasak menjadi lem.
  9. Bubur kertas siap cetak.


10. Membuat bentuk yang diinginkan.
11. Untuk mendapatkan bentuk seperti ini, dibutuhkan wadah bentuk tabung, kemudian kardus.

  • Bentuk kardus menyerupai sayap ayam dengan berbagai ukuran dan juga berbentuk kepala ayam.
  • Tempelkan pada tabung yang sudah disediakan dengan lem fox.
  • Setelah itu minta anak untuk menempelkan bubur kertas yang sudah diwarnai dengan pewarna makanan. Tempelkan dengan rata.
  • Buat juga bentuk telur sebagai hiasan tambahan.

12. Jemur tempat pensil hingga kering.

πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ

πŸ”˜ Membuat Boneka dari Kaos Kaki Bekas.

Kaos kaki si Kecil sudah tidak muat? Dari pada dibuang manfaatkan untuk mengasah ketrampilan pincer graps anak, dengan menjahit. Ajak anak bunda membuat boneka simpel

Alat dan Bahan
  • Kaos kaki bekas
  • Dakron atau kapuk
  • Benang
  • Gunting
  • Jarum
  • Pompom
Cara Membuat
  1. Membuat pola sederhana untuk boneka kelinci.
Pinteres: Juliana Denver
2. Memotong pada bagian yang harus       dipotong.
3. Ajari anak menjahit, dan minta anak untuk melanjutkan sendiri
4. Periksa jahitan anak, minta anak perbaiki jika masih longgar.
5. Mulai memasukkan dakron, jahit pada bagian telinga agar bagian muka terbentuk.
6. Beri aksesoris pada muka.
7. Tutup bagian bawah boneka.
8. Pasang pompom untuk ekor.


πŸ”˜ Meronce Kalung Daur Hidup  Kupu-kupu

Selain untuk melatih keterampilan tangan, meronce ini juga bisa sembari mengenalkan anak pada daur hidup kupu-kupu.

Alat dan Bahan
  • Kertas origami berwarna hijau, putih, hitam dan merah jambu
  • Sedotan
  • Benang wol
  • Lem fox
Cara Membuat
1. Buat bentuk 4 buah daun pada kertas origami berwarnahijau, bolak-balik tanpa terputus. 
2. Potong-potong sedotan ukuran disesuaikan.
3. Pasangi pada daun bagian tangkai yang tidak terputus dengan sedotan. Lem yang rapi.
4. Buat bentuk telur ulat lalu tempelkan pada salah satu daun.
5. Bentuk ulat lalu tempelkan pada daun berbeda.
6. Buat bentuk kepompong dengan menggulung kertas yang berisi kertas hingga terbentuk kepompong. Lalu tempelkan pada daun berikutnya.
7. Buatlah kupu-kupu yang manis dengan kertas warna pink sesuai kesukaanmu. Lalu tempel pada daun terakhir.
8. Biarkan lem kering.
9. Jangan lupa ajak anak dalam semua aktivitas agar anak bersemangat.
10. Minta anak untuk meronce kalung sesuai urutan daur hidup kupu-kupu.
Supaya lebih jelas bisa lihat akun instagram di atas ya.

πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ

πŸ”˜ Membuat Apem Menul Pelangi

Memasak adalah keterampilan hidup yang harus dipelajari oleh anak-anak. Supaya kelak saat dewasa bisa hidup mandiri. Anak biasanya tertarik dengan hal baru, dan selalu ingin mencoba mengerjakan. Tak ada salahnya jika mengisi kebersamaan dengan fun cooking.

Apem Menul by JE

Bahan-bahan
  • 1 gls nasi (saya sering pakai nasi sisa)
  • 1 gls tepung terigu serbaguna 
  • 1 gls tepung beras
  • 1 gls gula pasir
  • 1 sdmragi instan
  • 1.5 gls air (saya pakai santan)
  • 1 btrtelur (resep asli tidak pakai), bisa skip
  • 1/2 gls tape singkong (resep asli tidak pakai), bisa skip
  • 1/2 sdt garam halus
  • 1/2 sdtvanili bubuk
Cara Membuat
  1. Blender nasi + tape + gula + santan hingga lembut
  2. Masukkan semua sisa bahan, aduk hingga rata
  3. Fermentasikan kurang lebih 60 menit, sampai adonan mengembang.
  4. Bagi adonan ke dalam beberapa bagian, beri beberapa tetes pewarna kue sesuai selera.
  5. Masukkan dalam cetakan yang sudah dioles sedikit minyak goreng.
  6. Kukus selama 20 menit hingga kue masak.
  7. Sajikan saat hangat
Sumber: https://cookpad.com/id/resep/88052-apem-menul


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ

πŸ”˜ Membuat Diorama Siang dan Malam


Membuat diorama ini sangat menyenangkan. Kita bisa mengenalkan perbedaan siang dan malam. Bagaimana matahari terbit lalu tenggelam. Setelah selesai diorama bisa digunakan untuk bermain peran dengan boneka kesayangan.

Bagaimana cara membuatnya?

Klik instagram berikut ya untuk melihat detail. Selamat mencoba ya.

Setelah mengamati gambar, rasanya kamu akan lebih mudah dalam mengerjakannya.

Selamat mencoba lima kerajinan tangan yang sudah disediakan. Semangat πŸ€—πŸ€—πŸ€—

Kamis, 27 Februari 2020

,
Pernahkah merasa sangat beruntung sebab pertolongan orang lain?

Saya pernah merasakan bahagianya menerima pertolongan dari orang lain. Hanya do'a tulus yang bisa dipanjatkan untuk membalas kebaikan orang lain.

Waktu itu kami baru pindah, rumah belum tuntas di bangun bahkan listrik belum terpasang. Ketika ada tetangga yang menawarkan listrik, ada rasa sungkan dan haru berbaur.

Tawaran yang melegakan, di saat keluarga kami merasa enggan meminta. Menerima uluran tangan tanpa meminta ternyata membahagiakan. Bagi yang menerima menumbuhkan kebahagiaan yang tak terperi.

Bisa merasakan apa yang sedang orang lain rasakan dan tergerak hatinya untuk menolong merupakan cara kerja empati. Bagaimana caranya menumbuhkan empati ketika berada dalam kawasan elite?

Sesama pemilik rezeki berlimpah berkumpul menjadi satu. Tidak ada kesenjangan sosial, hingga cenderung sibuk dengan urusan pribadi.

Sedang di pelosok negeri sana, nun jauh dari jangkauan mata dan pendengaran ada banyak orang yang membutuhkan uluran tangan.

Keberadaan mereka yang jauh membuat kita merasa Indonesia aman, baik-baik saja. Mereka tidak memiliki cara untuk mengabarkan kondisi mereka yang jauh tertinggal.

Empat tahun lalu di Bandung, didirikan sebuah lembaga filantropi yang berfokus pada donasi dan penyaluran dana untuk daerah pedalaman. Lembaga itu bernama Insan Bumi Mandiri, selama empat tahun ini mereka berkiprah dalam memberi kebahagiaan untuk daerah pedalaman yang membutuhkan bantuan.


Baca: Insan Bumi Mandiri Penipu? Jawab Keraguan Anda di Sini


Dalam empat tahun berkarya, Insan Bumi Mandiri (IBM) sudah berhasil menebarkan kebahagian di daerah pedalaman. Kebermanfaatan sudah terasa sejak di tahun awal dibentuk.



Wujud kebahagiaan yang terlihat nyata dalam raut wajah mereka dari kasih sayang yang sudah sampai pada mereka. Telah banyak donasi yang berhasil dikumpulkan dan diserahkan.

Baca: Wujud Kasih Sayang Kita untuk Pedalaman

 1.495 hewan qurban untuk pedalaman

Senyum di wajah Aidil dan Putri

Ramadin tidur bersama kambing

Bangun satu-satunya masjid di pelosok Sumatera Selatan

Ragam Progam Donasi IBM

Penggalangan dana dari IBM dilakukan serempak untuk beberapa kebutuhan masyarakat pedalaman, seperti sarana peribadatan, jalan atau jembatan, saluran air bersih, bantuan berupa daging qurban, pengobatan penyakit yang membutuhkan banyak biaya, dan masih banyak lagi.

Maksud dari kata serempak adalah dalam satu kurun waktu IBM membuka donasi untuk beberapa program. Bagi yang memiliki keluasan rezeki bisa memilih program mana yang membuatnya tergerak hatinya untuk berbagi kebahagiaan.

Memberi kebahagiaan kepada sesama, berimbas pada kebahagiaan pada diri yang tak terkira. Binar-binar bahagia itu seolah tersalur pada penderma. Menderma seolah sedang membuat naungan bagi diri sendiri kelak di padang mahsyar.

Namun kemudahan berderma tidak akan terjadi apabila tidak ada sosok atau lembaga yang menyuarakan ini. Bangunan kokoh serta jalanan Ibu Kota, membuat diri kita buta, bahwa beberapa mil di seberang lautan, ada kepulauan NTB dan sekitarnya yang terisolir dari keberkahan Ibu Kota.

Bahwa ada berbagai derita, hingga sakit tak terobati. Bersanding dengan gelimang harta pada bangunan real estate serta apartemen mewah. 

Baca: Wujudkan Perubahan Sekarang! Mari Berdonasi

Menjadi Sahabat Pedalaman 

Yuk bergandengan tangan untuk menjadi bagian dari #SahabatPedalaman, sebutan untuk donatur IBM. Bersama sahabat setia IBM, saudara-saudara di pedalaman banyak yang terbantu. Tidak hanya beasiswa, untuk siswa yang tidak mampu, ada ribuan senyum lainnya.

Baca: Hallo Millennials Jadikan Donasi Sebagai Kebutuhanmu

Tidak sulit untuk menjadi #SahabatPedalaman, sebagai bentuk pemanfaatan teknologi, IBM telah mebuat platform digital untuk berdonasi. Imformasi juga mudah diperoleh dengan mengakses twitter, facebook, instagram dan juga akun youtube milik Insan Bumi Mandiri.

Ada 7 alasan mengapa kamu harus menjadi #SahabatPedalaman bersama Insan Bumi Mandiri, simak ya:
  1. Merupakan lembaga yang berfokus membantu daerah pedalaman.
  2. Amanah dan bisa dipercaya.
  3. Berpengalaman membantu masyarakat di pedalaman 
  4. Langsung terhubung dengan penerima manfaat, ada relawan yang berada di pedalaman.
  5. Adanya pengawasan dan evaluasi program secara berkala.
  6. Akses informasi mudah.
  7. Ada banyak cara untuk berdonasi: donasi melalui website, donasi dengan cara transfer langsung ke rekening IBM, mengirim barang donasi ke kantor IBM
Saat dirimu bukanlah penguasa yang mampu mengetahui kondisi rakyatnya, kamu bukan ahli dalam teknologi, bukan pemilik yayasan sosial, maka masih ada hal yang bisa kamu lakukan untuk bermanfaat bagi orang banyak, yaitu dengan berdonasi. 

Yuk cek platform Insan Bumi Mandiri, ada banyak piliham donasi yang mungkin membuat hatimu tergerak. Bawa hartamu hingga ke akherat dengan bersedekah. Bangun istana surgamu dengan kelebihan hartamu di dunia ini.

Hilangnya rasa syukur membuat nestapa terasa lebih pilu. Dan kebahagiaan seolah tak pernah hadir. Sedangkan engkau saban hari menikmati sehat dan gelimang harta. —Lantana Ungu—

Follow Us @sukmanyamega